Showing posts with label SEJARAH JAKARTA. Show all posts
Showing posts with label SEJARAH JAKARTA. Show all posts

kemeriahan ulang tahun ratu belanda di pasar gambir


 

 Kawasan gambir sejak era kolonialisme belanda menjadi kawasan yang sangat penting terutama sejak akhir abad 19. Dalam kurun waktu tertentu, diadakanlah semacam perayaan di kawasan tersebut.yakni untuk memperingati hari kelahiran ratu belanda, ratu wilhemina ( nenek dari ratu beatrix, dibuat perayaan besar dikawasan tersebut.

Setiap akhir bulan agustus kurang lebih selama seminggu penuh. Dikawasan itu diadakan berbagai pertunjukan, mulai dari komedi rakyat, komedi bangsawan, pertunjukan sulap hingga pertunjukan dari orang2 amerika yang disebut American show menjadi hiburan di kawasan tersebut.

Bahkan aneka jajanan selerti kerak telor, ketoprak serta aneka jajanan dan kuliner juga memeriahkan arena pasar gambir.

Jadi pada akhir agustus, kawasan tersebut dipenuhi pedagang yang menjajakan aneka jajanan.

Tentu saja berbagai pengunjung datang dari banyak tempat, mulai dari dalam kota batavia, maupun mereka yang datang dari luar kota batavia.

Kalangan muda, tua, anak-anak dan dewasa mendatangi perayaan "pasar rakyat" setiap akhir agustus itu.



Bahkan pada malam penutupan, diadakan pertunjukan kembang api besar-besaran. Tujuannya untuk menutup malam terakhir serta memeriahkan acara akhir tersebut.

Dimana kembang api tersebut banyak dibeli dari toko cina.

Perayaan akhir agustus untuk memperingati hari kelahiran ratu wilhemina itu menjadi daya tarik tersendiri dari masyarakat baik dalam kota batavia maupun dari luar kota batavia.

*diambil dari buku betawi " Queen of the east"  karya  alwi shahab

menara syahbandar, peninggalan kolonialisme belanda di kota tua jakarta

Menara syahbandar didirikan sekitar tahun 1839, yakni ketika zaman pemerintahan belanda.


 Menara ini dibangun pada era tanam paksa, yakni ketika pemerintahan kolonial belanda melangsungkan sistem eksploitasi ekonomi terhadap wilayah jajahannya melalui tanam paksa yang dimulai pada tahun 1830, yakni pada era pemerintahan gubernur jenderal johannes van de bosch.
Menara syahbandar bukan dibangun pada era penjajahan kongsi dagang belanda, VOC. Karena kongsi dagang belanda telah dibubarkan sejak tahun 1799.

Pembangunan menara syahbandar bukanlah pada masa era batavia awal, tetapi ketika pemerintahan kolonialisme Belanda. Fungsi dari menara syahbandar adalah sebagai menara pengawas bagi kapal-kapal yang keluar masuk kota batavia.

Kota batavia/jakarta pada masa lampau merupakan kota yang dipenuhi kapal-kapal. Dimana  banyak pedagang dan pelaut yang        singgah di kota yang berjuluk ratu dari timur tersebut, yaitu untuk menunggu cuaca atau arah angin yang tepat atau mengambil sarana logistik dan persediaan air. Karena itu banyak kapal-kapal yang keluar masuk kota batavia.


Letak dari menara syahbandar yang strategis serta memiliki ketinggian menjadi sarana pengawasan bagi kapal-kapal yang lewat keluar masuk kota batavia.

Selain berfungsi sebagai menara pengawas. Menara syahbandar juga berfungsi sebagai tempat pengumpulan pajak bagi kapal-kapal yang bongkar muat di pelabuhan.

Menara ini menempati bekas lahan bastion/benteng culenborg yang dibangun sejak masa antonio van diemen. Pada masa sebelumnya, yakni pada masa era batavia awal disana terdapat benteng culenborg, di sisi kanan tembok kota batavia.Kota jakarta pada masa lampau juga terdapat tembok kota yang mengelilingi kota tersebut. Benteng culenborg berfungsi sebagai tempat pertahanan.

Sebelum dibangun menara syahbandar, fungsi menara pengawas telah ada, yakni terdapat menara pengawas yang diatasny terdapat pos penjagaan.














Tetapi kemudian pada masa Gubernur jenderal herman willem daendles 1808-1811 gubernur jenderal bawahannya  napoleon bonaparte. Bastion culenborg dihancurkan, sehingga sisa-sisa bastion kurang bisa dikenali hingga sekarang ini.

Begitu juga menurut beberapa sumber yang valid, daendleslah yang menghancurkan tembok kota batavia, dimana ia menggunakan sisa-sisa reruntuhan tembok untuk membuat bangunan-bangunan baru di kawasan weltevreden.

Hingga sekitar tahun 1839, dibangun menara syahbandar yakni ketika masa kolonialisme belanda, tepatnya pada era zaman tanam paksa.

Hingga kini keberadaan menara ini kadang disebut sebagai menara miring . Dan kadang disebut sebagai menara goyang.















Hingga kini umur menara telah tebih dari 175 tahun. Tentu saja berpengaruh terhadap konstruksi bangunan menara.

Posisi menara yang dekat dengan badan jalan, dimana hampir setiap hari kendaraan berat seperti truk kontainer yang melewati jalan tersebut kadang menyebabkan menara tersebut bergoyang. Apalagi jika berada di dalam menara, tentu dapat lebih merasakan menara tersebut bergoyang. Karena itu menara syahbandar disebut sebagai menara goyang dan menara miring

Asal mula nama kawasan " kelurahan Makassar "

Kelurahan makassar saat ini merupakan salah satu kelurahan yang berada di kawasan kecamatan kramat jati, kotamadya jakarta timur.

Awal mula dari kelurahan makassar karena adanya kampung makasar yang banyak dihuni oleh orang-orang makasar.
Ketika terjadi perang antara kongsi dagang belanda dengan kerajaan gowa di makassar, perang tersebut dimenangkan oleh belanda. Karena kekalahan tersebut banyak orang-orang makassar yang ditawan dan diangkut oleh kapal-kapal belanda.

 Orang-orang makassar yang dibawa oleh VOC banyak ditempatkan oleh belanda di kawasan kampung makassar dimana kampung tersebut dibawah pimpinan kapten daeng matara.

Sebagian dari orang makassar   tersebut para bekas tawanan perang dan budak, setelah kekalahan kerajaan gowa yang dipimpin oleh sultan hasanuddin. Setelah kerajaan gowa takluk , kerajaan gowa  menandatangi perjanjian bongaya tahun 1669.

Wilayah kampung makassar dulunya berada jauh di selatan kota batavia/jakarta serta berada jauh di luar tembok kota batavia.

Ketika memasuki awal abad 20, tercatat tanah di kampung makassar dimiliki oleh keluarga Rollinson yang merupakan tuan tanah yang berkuasa di kawasan tersebut.

Sejarah asal mula nama " kampung melayu"

Kawasan kampung melayu merupakan nama kelurahan kampung melayu yang merupakan bagian dari kecamatan jatinegara kotamadya jakarta timur. 

Nama kampung melayu sendiri karena kawasan tersebut didiami oleh orang-orang melayu sejak abad ke 17.

Kawasan tersebut dulu bukan menjadi bagian dari kota batavia/jakarta. Karena jauh di selatan batavia serta berada di luar tembok kota batavia.

Orang-orang melayu banyak menetap disana sehingga disebut kampung orang-orang melayu atau "kampung melayu"

Salah seorang yang berpengaruh disana adalah wan abdul bagus, anak ence bagus yang lahir di patani, selatan thailand.

Wan abdul bagus berkerja untuk kongsi dagang belanda , ia merupakan bawahannya orang-orang belanda.

Oleh pihak belanda, wan abdul bagus dikenal sebagai orang yang cakap, jago berdiplomasi serta mampu menyusun administrasi yang baik sehingga ia banyak diberikan jabatan oleh VOC atau pihak belanda.

Ia pernah menjadi juru tulis, pernah juga menjadi juru bahasa atau duta dan utusan Bahkan ketika VOC atau belanda tengah membantu mataram untuk bertempur  melawan trunojoyo pada masa itu,wan abdul bagus juga disertakan dalam peperangan.  

Begitu juga ketika belanda memberikan bantuan untuk sultan haji ketika terjadi perang di banten, wan abdul bagus juga disertakan dalam peperangan. Hingga akhir hayatnya wan abdul bagus selalu diberikan jabatan oleh kongsi dagang belanda. Hingga ia pernah dikirim oleh pihak VOC sebagai duta atau utusan ke sumatera barat.

Jadi penamaan kawasan kampung melayu sesuai dengan nama atau suku bangsa yang menghuni kawasan tersebut.

Asal mula nama kawasan "Ragunan"

Kawasan ragunan sekarang merupakan nama dari kelurahan yang berada di kotamadya jakarta selatan yang merupakan bagian dari kelurahan pasar minggu.

Nama ragunan sendiri diambil dari sebuah nama, yaitu adipati wiraguna.
Sebuah gelar yang diberikan oleh sultan banten (sultan haji) pada lukaacz cartel atas jasa-jasanya membantu kesultanan banten.

Jadi terjadi sebuah peristiwa dimana keraton kesultanan banten terbakar akibat perang. Ketika itu akibat perang keraton kesultanan banten terbakar hebat dan sultan membutuhkan para ahli bangunan untuk membangun keraton yang baru.

Saat itu seorang petinggi VOC, akibat perang ia melarikan diri dari batavia ke banten serta meminta perlindungan dari banten.
Orang tersebut bernama lucaacz cartel ternyata masuk islam dan tinggal di banten.

Pucuk dicinta ulam tiba ternyata kehadira lucazz cartel dibutuhkan oleh pihak banten untuk membangun bangunan keraton yang baru. 
Lucaaz cartel memang dikenal sebagai seorang ahli bangunan dibatavia pada masanya.

Atas jasa-jasanya ia diberikan tanah yang luas di kawasan ragunan sekarang. Dahulu kawasan ragunan bukanlah bagian dari batavia/jakarta. Karena kawasan tersebut jauh di selatan  kota batavia/jakarta.

Lucas cartel atau adipati wiraguna juga diberikan gelar adipati wiraguna serta diberikan tanah yang luas di selatan kota batavia/jakarta.

Nama kawasan ragunan itu sendiri diambil dari nama adipati wiragunan atau lucaacz cartel yang merupakan gelar yang di Berikan sultan haji pada lucaaz cartel.

Sejarah pembangunan masjid Istiqlal jakarta


Sejarah pembangunan masjid Istiqlal Jakarta

Masjid istiqlal merupakan masjid terbesar se asia tenggara, yang dibangun sejak masa orde lama hingga masa orde baru. Pembangunannya selama belasan tahun yang dimulai sekitar tahun 1961hingga sekitar tahun 1978.

Masjid tersebut berdiri di atas kawasan taman wijaya kusuma atau yang dulunya dikenal dengan nama taman wilhemina. Keberadaan taman wilhemina dibangun sejak pemerintahan belanda dengan mengambil nama dari ratu negeri belanda, yakni ratu wilhemina.

Ketika memasuki zaman kemerdekaan, taman Wilhemina tersebut dirubah menjadi taman widjayakusuma. Diatas lahan dari taman itulah berdiri masjid istiqlal Jakarta yang perencanaannya serta pembangunannya sejak era orde lama.
Hingga kini masjid Istiqlal Jakarta yang merupakan masjid terbesar di se indonesia dan se asia tenggara.

Beberapa peninggalan era pemerintahan belanda yang ada di taman widjaya kusuma dihancurkan demi pembangunan masjid istiqlal.

Contohnya seperti patung-patung dan lambang era kolonial berupa patung kemenangan belanda atas aceh yang didirikan di atas taman widjayakusuma zaman belanda dihancurkan, demi pembangunan masjid.

Selain itu ruang hijau bagi kota jakarta berupa taman dialihfungsikan juga menjadi masjid.

Untuk kepentingan Rancangan Pembangunan masjid dilakukan sayembara, pihak panitia pembangunan mengumumkan sayembara rancangan masjid yang dilombakan. Sayembara untuk rancangan Sayembara itu diikuti banyak insiyur dan arsitek. Sayembara rancangan masjid istiqlal itu dikeluarkan secara resmi tanggal 22 februari tahun 1955.

Dalam berita sayembara itu, dipaparkan juga hadiah bagi pemenang.

Juara 1 mendapatkan hadiah 25000 rupiah. Juara 2 mendapatkan hadiah 15000 rupiah dan juara 3 akan mendapatkan hadiah 10000 rupiah.

Yang menjadi juri bagi sayembara tersebut adalah para insiyur dan tokoh nasionalis serta tokoh agama ikut berkecimpung dalam penjurian.

Diantaranya

1. Ir. Soekarno
2. Ir. Djuanda
3. Prof. Ir. Rossihan
4. Haji abdul malik  Karim Amrullah
5. H. Omar Husin , dsb.

Bagi yang mengikuti sayembara tersebut harus mengumpulkan karyanya paling lambat tanggal 30 juni 1955 atau 4 bulan setelah pengumuman sayembara itu diedarkan.   

Prosesi penjurian dilakukan pada tahun yang sama, 1955. Para juri yang merupakan tokoh nasionalis, tokoh agama dan arsitek melakukan prosesi penjurian hingga akhirnya terpilihlah seorang arsitek yang bernama friedrich silaban sebagai pemenang dari sayembara yang diadakan. Friedrich silaban mendapatkan hadiah dengan jumlah nominal yang besar pada masanya.

Rancangan arsitek tersebut menyerupai gedung bertingkat ternyata menarik minat bagi para juri untuk memenangkan karya tersebut.

Hingga akhirnya proyek pembangunan masjid istiqlal tersebut dimulai padaPada masa akhir dari orde lama.
Sekitar tahun 1961 dilakukan pencanangan tiang pertama untuk pembangunan masjid istiqlal.

Pada masa orde lama, datang kunjungan sirkus terkenal dari rusia. Ternyata Sebagian dari pendapatan sirkus itu disumbangkan untuk pembangunan masjid Istiqlal jakarta.

Hingga masuk pada masa orde baru, pembangunan masjid istiqlal itu selesai dan diresmikan oleh presiden soeharto pada tanggal 22 februari 1978 setelah belasan tahun pembangunan yang dimulai sejak era orde lama.
mau tahu?: Asal mula keberadaan orang Cina di Jakarta: Asal mula Orang Cina di Jakarta Orang cina telah ada di kota Batavia sejak lama, sejak Jakarta masih bernama sunda kelapa yang menjadi ...

Jakarta tempo dulu " ratu dari timur"


Jakarta tempo dulu "Ratu dari timur "

Pernah membayangkan kota venezia di italia?
Dengan air yang jernih dan sistem kanal-kanal yang dapat dilalui kapal berukuran kecil serta bangunan bergaya eropa di sebelahnya yang membuat siapa saja yang berkunjung memberikan pujian.

Ya, setidaknya Jakarta tempo dulu pernah mirip seperti itu. Kota dengan sistem kanalnya yang indah, barisan pohon-pohon kelapa dan bangunan bergaya Eropa di sebelah kanan dan kiri Sungai.Berbagai macam pujian lahir pada kota Jakarta tempo dulu sehingga disebut Ratu dari Timur. 

Seperti halnya di negeri belanda. Sistem tata kota di Batavia/jakarta tempo dulu terdapat kanal-kanal yang indah, kanal tersebut terhubung dengan Kali besar/ciliwung. Lengkap dengan benteng yang berada di Timur laut dari pusat kota dan bangunan bergaya Eropa seperti balai kota atau standhuis.

Adalah gubernur Jenderal ke 4 dan ke 6, J.P Coen yang membangun Batavia sejak awal. Ia juga di sebut penakluk Ciliwung karena dapat memperbaiki dan memperindah bentuk Kali besar. Kali besar yang awalnya berkelak-kelok dapat diluruskan. Selain itu ia juga membangun kanal-kanal tersebut yang terhubung dengan kali besar sebagai pusatnya. Hal itu telah menjadi keahlian tersendiri bagi masyarakat di negeri kincir Angin sejak abad ke 16.

Diantara kanal yang terbaik adalah kanal Harimau, jejeran pohon kelapa dipinggir kanal, bangunan bergaya eropa menambah "kesan" keindahan dari kanal tersebut. 

Seorang penyair, de Parra melantunkam Syairnya tentang keindahan kota batavia/jakarta sebagai kota terindah. Dalam syair-syairnya tersebut disebutkan tentang keindahan kanal Harimau. 

Fungsi dari kanal tersebut selain memiliki fungsi Ekonomi, yaitu untuk mengangkut barang-barang dari laut juga memiliki fungsi Estetika. Orang-orang belanda pada zaman itu telah terbiasa membuat kota-kota di negeri seperti itu.

Selain memiliki fungsi Estetika, Fungsi lainnya adalah untuk mencegah banjir. Aliran yang tadinya memusat di sungai Ciliwung sengaja dibuat menyebar agar tidak terjadi banjir.

Asal mula keberadaan orang cina di jakarta












Orang cina telah ada di kota Batavia sejak lama, sejak Jakarta masih bernama sunda kelapa yang menjadi salah satu bagian kerajaan sunda Pajajaran. Begitu pula ketika Jakarta menjadi salah satu wilayah kekuasaan Banten atau yang disebut dengan Jayakarta. Keberadaan orang-orang cina merupakan salah satu etnis dari banyaknya bangsa, etnis dan ras yang ada di Jayakarta.


Tetapi ketika Jayakarta ditaklukan bangsa belanda. Jayakarta dirubah namanya menjadi Batavia. 
Ketika belanda berkuasa melalui kongsi dagangnya, jumlah Orang cina di Batavia semakin banyak.

Adalah Gubernur Jenderal J.P. Coen, pemimpin VOC ke 4 dan ke 6 yang banyak mendatangkan orang cina ke batavia. saat itu Gubernur Jenderal J.P Coen merasa pesimis dengan kinerja orang-orang Eropa karena jumlah mereka sedikit. Lagi pula banyak dari orang eropa yang hidupnya makmur dan telah menjadi tuan tanah. J.P coen menyampaikan keluhannya melalui surat-surat pada Heren Seventien atau dewan pusat VOC di Amsterdam, negeri belanda.

Maka tahun 1622, Pihak Kongsi dagang belanda, VOC mengirimkan kapal-kapal dagangnya ke cina.Untuk mengangkut orang-orang cina ke batavia. Banyak dari orang Cina yang berpindah ke ke batavia dan menyambung hidup disana. J.P Coen sendiri dekat dengan kapiten Cina bernama kapiten Bencon. Sang gubernur Jenderal kadang berjalan-jalan pada sore hari ditemani prajurit musketeer dan minum teh bersama kapiten Cina tersebut.

Diantara orang cina di batavia, pada umumnya banyak yang menjadi pedagang, ada yang menjadi pengusaha di pabrik Gula, buruh di pabrik penyulingan arak, dsb.

Menurut van maurik pemukiman orang cina itu padat, dengan rumah-rumah yang berdempetan satu sama lain. Rumah orang cina rata-rata terbuat dari batu bata. Adapula mereka yang memiliki Rumah dua lantai. Dipemukiman Orang cina/tionghoa yang padat tersebut biasanya terdapat jalan sempit yang berlika-liku tanpa ujung.

Bagi mereka yang memiliki Rumah 2 lantai, biasanya mereka memanfaatkan Rumahnya sebagai tempat untuk berdagang. Lantai 2 digunakan untuk tempat hunian dan lantai 1 digunakan tempat untuk berdagang. Barang dagang biasanya disusun secara rapih dan kadangkala tersusun di rak-rak yang ada di depan rumah

Orang Cina juga memiliki budak, bukan hanya orang eropa. Perbudakan adalah hal yang wajar saat itu. Orang cina biasanya menjadikan budaknya sebagai buruh untuk berkerja di pabrik-pabrik Gula atau di tempat penyulingan arak.

Selain itu, orang cina juga memiliki hobi berjudi, judi adalah hal biasa yang dilakukan orang-orang cina saat itu. mereka berjudi di pasar, atau rumah yang memang dijadikan tempat berjudi. permainan 30 kartu atau 38 kartu menjadi hal yang biasa. Bahkan kaum wanitanya juga bermain judi. 

Tetapi mereka juga memiliki kebiasaan beramal atau derma. Pengumpulan derma biasa dilakukan ketika pengadaan pasar malam, ketika hari besar cina atau ketika pertunjukan seni.

Setelah terjadi pembantaian orang cina di batavia tahun 1740 atau yang dikenal dengan nama tragedi kali angke. Jumlah orang cina sempat menurun drastis karena banyak dari mereka yang dibunuh oleh tentara VOC dan orang-orang pribumi.

Seperti yang dikatan oleh Vermeulen jumlah mereka tinggal 600 orang yang ada di dalam tembok kota batavia setelah pembantaian atau tragedi kali angke terjadi. Setelah peristiwa kali angke, orang-orang cina di mobilisasi ke kawasan Pecinan (Glodok). Hal itu dilakukan supaya Pemerintah VOC bisa mengawasi keberadaan mereka. Hingga saat ini Keberadaan orang-orang cina dan keturunannya banyak  di kawasan Glodok. 

*Diambil dari buku Jakarta 400 karya Susan Blackburn
Dan buku Kehidupan Sosial di batavia karya Gelman Taylor

Semoga Bermanfaat

Sejarah banjir banjir jakarta

Batavia sejak dulu dikenal sebagai "Ratu dari timur"  Jakarta yang kini menginjak usia 484 tahun sudah 13 kali berganti nama.  Data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebutkan, cikal bakal Jakarta adalah sebuah kota bernama Kalapa. Laporan para penulis Eropa di abad 16 menyebutkan, Kalapa saat itu menjadi bandar utama kerajaan Hindu bernama Sunda yang ibukotanya Padjajaran. 

Namun pada 22 Juni 1527, Fatahillah yang kemudian menjadi penguasa mengganti nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta. Sesuai Keputusan DPR Kota Sementara No. 6/D/K/1956, tanggal itu kemudian  Bahkan seorang penyair yang bernama De Parra mengumandangkan syairnya dengan menyebutkan batavia sebagai kota dengan segudang keindahan. Seperti yang ada di negeri Belanda. pihak belanda mampu membangun kota dengan membangun kanal-kanal.

Fungsi adanya kanal itu adalah selain memiliki fungsi ekonomi, estetika juga mempunyai fungsi pencegah banjir. Adalah Gubernur Jenderal J. P. Coen yang berhasil membangun kanal-kanal itu pada masa pemerintahannya. Karena itu J.P Coen dikenal sebagai penakluk Ciliwung (kali Besar),  ia mampu meluruskan dan membangun kali besar secara lebih baik. Bentuk Kali besar yang berkelok-kelok diluruskan dan dibangun kanal-kanal penghubung. Hal itu dilakukan untuk menanggulangi Banjir selain fungsi ekonomi. Pihak Belanda sudah terbiasa dengan keadaan tersebut.Penggalian Kanal dan pembuatannya sudah menjadi keahlian bagi orang-orang dari kincir angin tersebut. Hingga pada akhirnya Pada abad ke 17 Jakarta menjelma menjadi "Ratu dari Timur". 

tetapi walaupun penggalian itu dilakukan Oud Batavia selalu dikelilingi banjir, banjir terjadi dimana-mana sejak abad 17.Banjir besar kembali melanda Batavia di awal tahun 1918 setelah hujan terus melanda Batavia. Akibat dari banjir besar tahun 1918, pada awal tahun 1920 pemerintah setempat merencanakan upaya untuk menangggulangi banjir. Rencana itu datang dari Herman van Breen, seorang insinyur hidrologi yang bekerja pada Burgelijke Openbare Werken yang merupakan cikal bakal Dinas Pekerjaan Umum RI. Rencana van Breen saat itu cukup sederhana yaitu memecah aliran sungai yang masuk Batavia melalui sebelah kiri dan kanan Batavia sehingga aliran air tidak ada yang masuk tengah kota. Atas dasar rencana itulah pada tahun 1922 dimulai pembangunan Banjir Kanal Barat setelah sebelumnya membangun pintu air Manggarai.

 Sejarah mencatat, sejak masih berada di bawah ketiak penjajah dengan nama Batavia, banjir telah menjadi masalah utama Ibu Kota. Tahun 1621, 1654, 1873, dan 1918 adalah tahun-tahun yang buruk dalam rekaman sejarah banjir besar di Batavia. Berlanjut pada dekade belakangan ini, banjir besar yang melanda Jakarta terjadi pada 1979, 1996, 1999, 2002, dan 2007. Kondisi itu disusul dengan banjir-banjir yang setiap tahun nyaris melumpuhkan Ibu Kota hingga saat ini. Maklum jika Adhi Kusumaputra (2010) mengatakan bahwa upaya penanganan banjir di Ibu Kota umurnya nyaris setua dengan usia Jakarta sendiri.

Sejak pemerintahan Belanda, banjir di Ibu Kota diurus secara serius. Pada 1850-an, pemerintah kolonial membentuk Burgelijke Openbare Werken sebagai badan khusus untuk mengurusi banjir di Jakarta. Setelah banjir besar pada 1918, upaya penanganan banjir Jakarta tampak mulai direncanakan secara komprehensif. Kanal Banjir Barat (KBB) yang dibangun pada 1922 adalah artefak hidup hasil kerja Tim Penyusun Rencana Pencegahan Banjir yang dikepalai oleh Profesor Dr Herman van Breen.

Jadi sejak Zaman Belanda jakarta Banjir....percayakah anda dengan Bahwa pemerintah bisa menangani banjir ???

Nama-nama Kota jakarta pada masa lampau

 Jakarta yang kini menginjak usia 484 tahun sudah 13 kali berganti nama.  Data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebutkan, cikal bakal Jakarta adalah sebuah kota bernama Kalapa. Laporan para penulis Eropa di abad 16 menyebutkan, Kalapa saat itu menjadi bandar utama kerajaan Hindu bernama Sunda yang ibukotanya Padjajaran. 

Namun pada 22 Juni 1527, Fatahillah yang kemudian menjadi penguasa mengganti nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta. Sesuai Keputusan DPR Kota Sementara No. 6/D/K/1956, tanggal itu kemudian dicanangkan sebagai hari jadi kota Jakarta.

Berikut nama-nama yang pernah menjadi sebutan untuk Jakarta:

1. Pada Abad ke-14 bernama Sunda Kelapa sebagai pelabuhan Kerajaan Pajajaran

2. Tanggal 22 Juni 1527 oleh Fatahilah, diganti nama menjadi Jayakarta

3. Tanggal 4 Maret 1621 oleh Belanda untuk pertama kali bentuk pemerintah kota bernama Stad Batavia

4. Tanggal 1 April 1905 berubah nama menjadi 'Gemeente Batavia'

5. Tanggal 8 Januari 1935 berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia

6. Tanggal 8 Agustus 1942 oleh Jepang diubah namanya menjadi Jakarta Toko Betsu Shi

7.  Pada September 1945 pemerintah kota Jakarta diberi nama Pemerintah Nasional Kota Jakarta

8. Tanggal 20 Februari 1950 dalam masa Pemerintahan Pre Federal berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia

9. Tanggal 24 Maret 1950 diganti menjadi Kota Praj'a Jakarta

10. Tanggal 18 Januari 1958 kedudukan Jakarta sebagai daerah swatantra dinamakan Kota Praja Djakarta Raya

11. Tahun 1961 dengan PP No. 2 tahun 1961 jo UU No. 2 PNPS 1961 dibentuk Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya
12. Tanggal 31 Agustus 1964 dengan UU No. 10 tahun 1964 dinyatakan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya tetap sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta.

Perjudian orang-orang cina di batavia









Judi, sebuah hal yang tidak asing bagi kalangan cina di batavia pada masa lampau. Batavia merupakan kota multiras, multikultur dan multietnis. Dimana masing-masing Ras, suku, etnis memiliki budaya dan kebiasaan di kota jakarta yang berbeda antara satu dengan lainnya.

Perbedaan itu menjadi ciri khas yang membedakan antara ras yang satu dengan, ras lainnya. Atau antara etnis satu dengan yang lainnya.

Keberadaan orang cina tidak di sangsikan lagi. Mereka adalah penghuni tetap bagi kota jakarta masa lampau. Menurut data tahun 1673, jumlah orang cina di batavia 2700 orang atau 10 persen dari total populasi kota.

Di batavia, perjudian adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang cina, permainan 30 kartu, 38 kartu adalah pemandangan sehari-hari bagi salah satu etnis terbanyak di kota batavia tersebut.

Susan blackburn dalam kitabnya, jakarta 400 tahun mengambarkan perjudian adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang cina. Perjudian dilakukan di rumah-rumah orang tionghoa yang memang dijadikan sebagai arena judi. Judi juga dilakukan Ketika pengadaan pasar malam, atau di ranah lingkungan orang-orang cina di batavia sendiri. 

Tidak seperti orang-orang pribumi, judi sabung ayam adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang-orang pribumi. Tetapi orang cina kurang tertarik dengan judi semacam itu. Permainan 30 kartu, 38 kartu adalah hal biasa mereka mainkan.

Bahkan lebih lanjut menurut susan blackburn, kaum wanita cina juga memainkan judi. Tidak hanya kaum lelaki saja, kaum wanita juga ikut dalam arena meja judi. Malah ada sebagian kaum wanita yang intens dalam memainkan perjudiannya.

Jadi tidak hanya orang cina, judi juga dilakukan oleh orang pribumi asli, meski bentuknya saja yang berbeda. 

*berdasarkan fakta
Diambil dari banyak buku.

Jakarta tempo dulu " graff der hollander"

Jakarta tempo dulu atau yang bernama Batavia memang memiliki segudang cerita. mulai dari kisah keindahannya sehingga dijuluki "Ratu dari Timur". Selain itu kota Jakarta Tempo dulu disebut  "Graff der Hollander" karena banyak orang belanda yang tewas dikota,  akibat wabah penyakit seperti kolera dan disentri.

Jakarta tempo dulu memiliki nama resmi dan dikenal dengan stad Batavia yang mulai dicanangkan oleh Pemerintah Belanda sejak tahun 1621.

Jakarta tempo dulu juga dijuluki Graff der Hollander yang berarti "kuburan" bagi orang-orang belanda. Selain memiliki keindahannya, sehingga dijuluki Ratu dari Timur" , kota ini juga menyimpan sisi kelam karena banyaknya orang-orang belanda yang tewas di Batavia.

Dijuluki Kuburan bagi orang-orang belanda, kita bisa mengetahui dari kisah-kisah yang ditulis oleh "de Graaf".  

seorang ahli bedah yang bernama de graaf pernah mengunjungi Batavia dari belanda. ia bersama dengan kurang lebih 300 orang berangkat dengan menggunakan kapal besar ke batavia. pada masa itu belum ada terusan suez sehingga perjalanan kapal laut membutuhkan waktu sedikitnya 6 bulan berada diatas kapal laut.

Ketika kapal telah sampai dibatavia,  tidak jarang dari penumpang kapal tersebut yang tewas setelah berhari-hari berada di batavia. Faktor iklim adalah salah satunya. Iklim Tropis ternyata tidak cocok bagi orang-orang belanda sehingga ketika menjejakkan kaki di kota ini, orang-orang belanda meregang nyawa. 

Selain dari ketidakcocokan iklim juga faktor yang lain adalah wabah penyakit. banyak orang-orang belanda yang tewas akibat wabah penyakit seperti kolera dan disentri, seperti istri dari Gubernur Jenderal J.P Coen.
Wabah penyakit yang melanda batavia pada sekitar abad 18 menyebabkan banyak warga batavia yang berasal dari kalangan Eropa tewas.

Seperti yang dikatakan oleh Gelman Taylor, kadangkala ada orang-orang  belanda yang tewas secara mendadak dan misterius, padahal beberapa jam sebelumnya mereka menghadiri makan malam bersama keluarganya, tetapi pada pagi harinya mendadak tewas ditemukan di kamarnya.

pada akhirnya pada abad ke 19, Gubernur Jenderal Herman willem Daendles (1808-1811) menganggap kawasan Old Batavia, kota tua terlalu penuh dengan penduduk dan memindahkan pusat pemerintahan ke kawasan Weltervreden. Weltervreden merupakan sebuah kawasan di selatan Oud batavia atau kota tua . Weltervreden adalah kawasan sekitar monas, lapangan banteng atau Menteng.

sebuah survey yang dilakukan pada tahun 1900 menunjukan penduduk batavia hanya kurang lebih 116.000 orang, sedangkan Surabaya berpenduduk lebih banyak yaitu 147.000. mengenai jumlah penduduk batavia yang berjumlah lebih sedikit karena angka kematian atau mortalitas yang lebih tinggi dari pada di kota-kota lainnya di pulau Jawa. Wabah penyakit, kehidupan yang tidak sehat dijalani oleh warga kota sehingga menyebabkan angka kematian yang lebih tinggi dari pada kota-kota lainnya.



Jadi Kota jakarta tempo dulu selain dikenal sebagai Ratu dari Timur, ternyata juga yang menyimpan sisi kelam bagi orang-orang belanda.


Kanal harimau dan yair-syair de marre

Kanal harimau di batavia dan syair-syair de marre

Kota jakarta tempo dulu terdapat sistem kanal yang membelah kota. Seperti layaknya kota venezia di italia, kanal tersebut berukuran besar sehingga kapal-kapal kecil dapat berlayar diatasnya. Sistem kanal tersebut terhubung dengan kali besar atau ciliwung sebagai pusatnya. telah menjadi keahlian tersendiri bagi orang belanda untuk membangun sistem kanal di dalam kota yang berjuluk "ratu dari timur" tersebut. pembangunan kanal dilakukan sejak masa pemerintahan gubernur Jenderal j.P. Coen, yaitu masa batavia awal.

Layaknya kota-kota di negeri belanda yang terdapat kanal-kanal. Kota jakarta tempo dulu terdapat banyak kanal. Di sebelah kiri dan kanal tersebut terdapat deretan pohon kelapa dan bangunan bergaya eropa sehingga menambah kesan keindahan bagi siapa saja yang datang berkunjung. Banyak pedagang dan pelaut yang berlabuh selama beberapa hari, atau hingga beberapa bulan untuk menunggu cuaca yang tepat untuk berlayar atau mengambil perbekalan-perbekalan sebelum berangkat berlayar.

Diantara kanal memiliki tingkat estetika yang tinggi adalah kanal Harimau. Dimana di sisi kanan dan kiri kanal harimau adalah rumah-rumah besar bagi orang eropa terkaya. selain memiliki fungsi ekonomi dan pencegah banjir, keberadaan kanal tersebut ternyata terdapat nilai-nilai keindahan diatasnya. atau fungsi estetik melekat pada sistem kanal yang membelah kota.

Pujian-pujian pun lahir terhadap tempat itu. Tidak sedikit sanjungan lahir dari para pengunjung kota, Termasuk seorang penyair terkenal pada masanya, de marre yang memuji keindahan kota batavia sebagai kota terbaik di wilayah belahan timur bumi. dalam syair-syairnya de parra juga menyebutkan sisi keindahan bagi kanal harimau.

Jadi apakah anda percaya, jika kota jakarta tempo dulu seindah kota venezia di italia ?



Silahkan anda mengambil kesimpulan

Jakarta pada masa lampau...kotanya para budak

Jakarta tempo dulu selain disebut sebagai Ratu dari Timur karena keindahan bangunan dan kanal-kanalnya, batavia juga disebut sebagai kota Budak. bagaimana tidak dari keseluruhan jumlah penduduk kota yang paling banyak adalah komunitas Budak yang menurut data tahun 1673,  Jumlahnya mencapai 13.000 orang.

Zaman itu perbudakan adalah hal yang legal dibelahan dunia manapun. VOC atau kongsi dagang milik belanda pada awalnya banyak membeli budak dari India selatan, dimana VOC mempunyai koneksi disana. Para budak itu diangkut dengan kapal ke Batavia atau jakarta dan diperjual belikan disana. Tetapi ketika pada masa  abad 18, VOC lebih banyak melakukan pembelian budak di wilayah nusantara, seperti dari bugis atau bali. Lambat laun penjualan budak semakin lama semakin banyak dan batavia menjadi kota budak.

Susan Blackburn dalam bukunya "Jakarta 400 tahun " Menyebutkan Jumlah budak terbanyak bila dibanding dengan jumlah orang eropa, Cina , mardjiker atau orang pribumi sekalipun. Jumlah orang eropa mencapai 2000 orang. Jumlah orang cina sekitar 2700 orang tahun 1673. Mardjiker 6000 orang dan yang paling banyak adalah jumlah budak yang mencapai 13000 orang. jumlah budak 6 kali lipat dari jumlah orang Eropa dan dua kali lipat dari orang mardjiker. Ternyata jumlah budak di batavia adalah komunitas terbanyak dengan persentasi mencapai 48 persen dari total keseluruhan jumlah penduduk di batavia.

Jadi komunitas budak di batavia mencapai 13.000 orang atau 48 persen penghuni kota batavia adalah Budak !!!

Jadi yang terbanyak di kota batavia adalah budak. Jumlah budak semakin berkurang pada abad 19 atau tahun 1800 an. Karena ketika inggris dibawah Thomas Stamford Raffles berkuasa atas wilayah-wilayah di nusantara , dilakukan pelarangan jual beli budak hingga jumlah budak semakin berkurang.
Kemudian pada akhir abad 19 muncul gerakan dan paham Humanisme sehingga banyak orang-orang belanda secara sukarela membebaskan budaknya sendiri. Hingga ada surat kabar dibatavia yang memberikan sanjungan pada orang-orang eropa tertentu yang membebaskan budaknya sendiri.

Jadi selain menyandang Sebagai Ratu dari Timur karena keindahan kotanya, Pantaskah Jakarta tempo dulu dipandang sebagai Kota Budak ?

Semoga bermanfaat

Pelacuran di jakarta pada masa lampau

mau tahu?: Pelacuran di Jakarta tempo dulu:          Gubenur Jenderal VOC ke enam, J.P Coen menyampaikan surat tersebut kepada para direktur VOC. Sebagai seorang pendiri Kota Batav...

Sebab orang cina sedikit di kawasan priangan

Orang cina banyak di Jakarta, tetapi di Jawa barat sedikit. Apa Sebabnya ?

Keberadaan orang cina di Jakarta tidak disangsikan lagi. Bahkan Sejak kota Jakarta tempo dulu bernama sunda kelapa yang menjadi bagian dari kerajaan sunda pajajaran, Orang cina telah ada di kota pelabuhan sunda kelapa sejak sebelum abad 15.

Hingga ketika Jakarta ditaklukan oleh bangsa Belanda dibawah pimpinan Gubernur Jenderal Belanda ke enam nama kota  dirubah menjadi Batavia. Saat penjajahan Belanda, Keberadaan Orang cina semakin banyak. Penguasa Belanda, yakni Gubernur Jenderal j.P. Coen banyak menarik orang cina untuk tinggal dan bermukim di Batavia untuk memajukan ekonomi kota. Gubernur Jenderal keenam, J.P Coen itu pesimis dengan orang-orang eropa yang dianggapnya terlalu kaya dan sulit untuk memajukan ekonomi kota, apalagi telah banyak orang eropa yang menjadi tuan tanah.

Hingga pada tahun 1622, J.P. Coen banyak mengirim kapal-kapal Belanda ke cina untuk mengangkut orang-orang Cina untuk tinggal dan bermukim di kota Batavia. Merekalah salah satu tulang punggung perekonomian kota Batavia. Perkerjaan seperti pengusaha pabrik gula, buruh, berkerja di penyulingan arak adalah salah satu dari sekian banyak perkerjaan orang-orang Tionghoa di Batavia. Jumlah mereka banyak bahkan lebih dari jumlah orang-orang eropa dan belanda di Batavia.

Menurut data dan statistik tahun 1673 jumlah orang-orang Tionghoa di Batavia telah mencapai 2700 orang, dan semakin lama semakin bertambah hingga abad ke 19.

Sebaliknya di daerah Jawa Barat, sejak lama belanda memberlakukan preager Stelsel yang melarang penduduk di daerah jawa barat-priangan untuk bermigrasi ke tempat lain.

Selain itu orang atau bangsa lain juga dilarang bermigrasi ke kawasan tersebut. seperti halnya orang-orang cina dilarang untuk bermigrasi ke jawa barat. Preager Stelsel itu dimaksudkan untuk melindungi kepentingan eksploitasi ekonomi yang dijalankan oleh bangsa Belanda di kawasan Jawa barat. Mengingat jumlah kawasan jawa barat adalah daerah penghasil kopi terbaik dan terbanyak pada era tanam Paksa.

itulah sebabnya penduduk di kawasan tersebut dilarang untuk bermigrasi ke daerah lain dan orang-orang Cina dilarang bermigrasi ke wilayah itu. Sehingga jumlah orang cina sedikit. Hal itu dimaksudkan Agar kepentingan eksploitasi bangsa belanda tetap terjaga  di kawasan jawa barat.

Asal mula keberadaan orang cina di glodok

Asal mula keberadaan orang Cina di Pecinan/Glodok

Sejak awal pemerintahan VOC, dibawah gubernur jenderal pieter both. Pihak belanda melakukan kerjasama dengan banten, seperti pembelian lada yang merupakan komoditas terkenal dalam perdagangan. Pieter both mengutus bawahannya, J.P Coen yang posisinya belum sebagai gubernur jenderal.
Untuk mengurusi pembelian lada

Di banten sendiri, orang-orang tionghoa telah bercokol disana. Terdapat sebuah nama, souw bing kong,  yang sangat dihormati. Ia merupakan pengusaha cina dan tokoh yang memiliki perkebunan lada yang luas. Dari sinilah pertemuan itu dimulai antara orang-orang belanda dan orang-orang cina.

Ketika belanda menaklukan kota jayakarta dan mengantinya dengan nama batavia tahun 1619, awalnya pihak belanda mengalami penolakan dari orang-orang tionghoa dibatavia. Banyak pedagang tionghoa yang menolak berhubungan dagang dengan belanda.

J.P Coen sendiri yang telah memiliki hubungan yang baik dengan souw beng kong, mempergunakan tangan souw beng kong untuk mengajak dan mempengaruhi orang cina di batavia.

Bahkan pada oktober tahun 1619, Souw beng kong diangkat sebagai kapiten cina (kaptein) pertama di batavia. Souw beng kong ditugaskan untuk menganyomi komunitas tionghoa pertama di batavia yang berjumlah kurang lebih 400 orang.

Selain itu souw beng kong juga menjadi ketua kongkoan, atau dewan tionghoa di batavia. Hal-hal yang berkaitan dengan upacara pemakaman, tempat pemakaman bagi orang tionghoa yang meninggal dunia diurusi oleh kongkoan cina tersebut, selain itu kongkoan juga mengurusi masalah kependudukan seperti sensus. Dan mengayomi segala keperluan bagi komunitas cina di batavia.

Ketika menjadi kapitan, dirinya tidak digaji oleh kongsi dagang belanda tersebut. Tetapi ia berhak mendapatkan 20 persen bea cukai pajak rumah-rumah perjudian milik orang cina di batavia. Pada masa itu perjudian diantara orang cina memang marak, terdapat banyak rumah yang dijadikan arena perjudian yang disebut pachter.

Ketika batavia diserang mataram tahun 1628 hingga 1629, J.P Coen berupaya mempengaruhi kapiten cina tersebut agar melibatkan orang-orang tionghoa dalam perang melawan mataram. Tetapi kapiten cina tersebut bersikap netral. Ia menganggap bahwa orang-orang tionghoa hanya ingin berdagang dan tidak ingin mengurusi hal-hal yang bersifat politik dan militer.

Setelah terjadinya perang dengan mataram hubungan antara sang kapiten dan belanda menjadi renggang. Saat itulah ia ingin kembali ke tiongkok dan setelah meminta izin berkali-kali dari pihak belanda, sang kapiten kembali ke tionghoa.

Tetapi ketika baru sampai di formossa , taiwan,  ada laporan bahwa pemerintahan cina tidak menerima kembali bagi mereka yang telah berkerja sama dengan VOC, tidak diizinkan kembali ke cina.

Maka dengan menumpang kapal belanda, sang kapiten kembali ke batavia. Pada tahun 1636, kedudukannya sebagai kapiten, digantikan oleh lik lim. Hingga ia wafat tahun 1644 dan dimakamkan di batavia.

Ketika terjadi pembantaian orang cina Oleh tentara VOC (kongsi dagang milik belanda) pada bulan oktober 1740. mengakibatkan ribuan orang cina terbunuh. Seperti yang disebutkan oleh Vermeulen jumlah orang cina hanya tinggal 600 orang di dalam tembok kota Batavia. Sebagian orang cina terpaksa melarikan diri keluar tembok kota Batavia. 

Jumlah masyarakat cina menurun drastis di kota batavia , produksi gula mengalami penurunan. Karena banyak pabrik gula yang tidak beroperasi. timbul defisit ekonomi pasca terjadinya Tragedi kali Angke. Produksi Gula sempat terhenti karena tadinya banyak buruh pabrik gula dan pengusaha gula dari kalangan Cina yang terbunuh.

Tadinya seperti yang dikatakan Van maurik, orang cina dan pemukimannya menyebar hampir di seantero kota batavia. Pemukiman Cina di batavia padat, rumah mereka terbuat dari batu bata saling berdempetan satu sama lainnya. Ada Rumah yang berlantai satu dan adapula orang tionghoa yang berlantai 2. 

Setelah terjadinya pembantaian Orang tionghoa di batavia pada oktober 1740. Orang cina mulai dimobilisasi ke kawasan Pecinan atau kawasan glodok dan sekitarnya. Pihak kongsi dagang belanda merasa Khawatir bilamana terjadi kembali pemberontakan. Maka Masyarakat Tionghoa/cina sengaja diberikan tempat di pecinan untuk memudahkan pengawasan.

Tidak heran keberadaan Orang Tionghoa dan keturunannya banyak di kawasan pecinan/Glodok hingga sekarang. yang kini menjadi warga negara Indonesia. Hal tersebut menjadi lumrah, karena bangsa Indonesia terbentuk dari keanekaragaman dan Multikulturalisme.









Tulisan berdasarkan Fakta sejarah


Semoga bermanfaat

Ommelenden, kawasan luar tembok kota batavia

Kota Batavia pada masa awal merupakan kawasan kota yang dikelilingi tembok. Layaknya kota-kota di eropa dan negeri belanda, kota yang berjuluk “ratu dari Timur” karena keindahannya ini juga dikelilingi tembok. Keberadaan tembok kota difungsikan untuk pertahanan dari ancaman serangan musuh. Apalagi pada awal pendirian kota Batavia, pihak kongsi belanda hanya berkuasa atas sedikit wilayah di pulau jawa, yaitu kota Batavia. Keberadaan kesultanan banten dan kesultanan mataram di tanah jawa merupakan ancaman dari pihak kongsi dagang belanda atau VOC. Disisi tertentu tembok terdapat gerbang-gerbang untuk memasuki kota, seperti gerbang Utrech, diest dan yang lainnya. Tampaknya nama-nama gerbang kota diambil dari nama kota-kota di negeri Belanda.

Jika kita membaca sejarah eropa tentunya wajar jika kota yang dikelilingi tembok merupakan hal yang biasa. Kota-kota di spanyol misalkan seperti kota Toledo, adanya sistem pertahanan tembok kota merupakan hal yang biasa pada zaman itu.

Di luar kawasan tembok kota  Batavia disebut dengan nama ommelenden, wilayah yang pada masa Batavia awal jarang dikunjungi oleh orang eropa sekalipun. Kawasan luar tembok kota merupakan wilayah yang berbahaya karena banyak perampok dari banten yang berkeliaran. Seperti yang dikisahkan dalam buku Jakarta 400 tahun, pada masa Batavia awal saat itu, Pihak kongsi dagang belanda atau yang dikenal dengan nama Vereninging Oost Indische Compagnie (VOC) berperang dengan banten. Jadi keberadaan orang-orang eropa di luar kawasan tembok merupakan hal yang berbahaya.

Selain itu seperti yang dikabarkan bahwa kawasan luar tembok kota merupakan kawasan hutan dan ladang tebu, disana masih banyak hewan buas yang berkeliaran seperti harimau. Ada kasus-kasus tertentu dimana petani tebu yang diserang oleh hewan buas tersebut. Tidak seperti pada masa sekarang dimana wilayah tersebut dipenuhi gedung dan bangunan bertingkat. Kawasan ommelenden merupakan ladang tebu dan hutan yang berbahaya bagi orang-orang eropa untuk menjelajahinya.

Sehingga pada masa awal pendirian kota Batavia, orang eropa pada zaman itu pergi ke kawasan luar tembok hanya sebentar. Mereka pergi pada pagi atau siang hari dan sebelum petang mereka pulang. Tetapi lambat laun setelah tahun 1680 keadaan berubah dan wilayah Ommelenden menjadi wilayah yang lebih aman dari sebelumnya. Hal tersebut karena Pihak kongsi dagang Belanda atau VOC berdamai dengan Banten. Hal itulah yang membuat kawasan Ommelenden menjadi lebih aman dari sebelumnya.



J.P.Coen pendiri kota batavia

J.P coen  adalah Gubernur Jenderal VOC, kongsi dagang belanda ke 4 dan ke 6. Pada masa pemerintahannya tahun 1619, ia menaklukan Kota Jayakarta dan  merebutnya dari tangan pangeran Jayakarta dan kesultanan banten. Kemudian ia menamakan kota barunya tersebut dengan nama Niew Hoorn. Tetapi tampaknya The Heeren Zeventien, dewan pusat kongsi dagang belanda tidak menyetujui hal tersebut. atas perintah Dewan Pusat kota yang baru dibangun itu dinamakan dengan Batavia. 

Penamaan kota Batavia adalah untuk menghormati nenek moyang orang belanda bangsa Batavien, sehingga atas perintah the Hereen Zeventien kota Jayakarta diganti dengan nama Batavia.

Pada masa pemerintahannya sang Gubernur Jenderal, dilakukan pembangunan kota Batavia awal, bangunan-bangunan bergaya eropa didirikan dan sistem kanal dibuat. Kota Batavia menjadi kota dengan sistem kanal. Adanya kanal tersebut memiliki fungsi untuk mencegah banjir. Selain itu adanya kanal tersebut memiliki Fungsi ekonomi, yaitu untuk mengangkut barang,  karena kanal tersebut dapat dilalui oleh kapal berukuran kecil.

Selain itu adanya kanal tersebut juga menambah estetika, jejeran pohon kelapa dan bangunan bergaya Eropa menambah kesan keindahan tersendiri bagi orang yang berkunjung ke Batavia sehingga Batavia dijuluki Ratu dari Timur karena keindahannya. Hingga penyair-penyair seperti de Parra menyanjung keindahan kota ini sebagai salah satu kota terindah di belahan dunia timur.

Kota batavia juga dikelilingi tembok, diluar kawasan tembok kota adalah wilayah yang berbahaya karena dikelilingi hutan dan ladang tebu. Saat itu Belanda masih bermusuhan dengan Kesultanan banten. Sehingga perampok banten berkeliaran di luar tembok kota. 

Selain itu kawasan di luar tembok masih banyak binatang buasnya sehingga banyak kasus pekerja diladang tebu yang tewas akibat binatang buas.

Hingga pada awal Abad Ke 19 pusat pemerintahan dipindahkan ke kawasan yang lebih di selatan, ke Weltervreden, yakni kawasan di sekitar lapangan banteng, silang monas. Hingga kawasan yg dibangun pada masa batavia awal dikenal dengan nama Oud Batavia atau old Batavia, batavia lama.

Hingga kini kawasan Kota Tua Jakarta masih sering dikunjungi oleh banyak wisatawan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Sisa-sisa peninggalan bangunan bergaya Eropa pun masih banyak seperti bangunan museum Fatahillah yang dulu merupakan Balai kota (Standhuis). J.P Coen bisa disebut sebagai Pendiri kota Batavia.



Diambil dari buku Jakarta 400 tahun